Dampak Proyek Pancang PT Polytama: Pendapatan Nelayan Limbangan Rontok 70%, Rumah Warga Dilaporkan Retak

banner 120x600
Rednews.my.id, indramayu – Proyek pemancangan trestle dan jetty untuk proyek GT milik PT Polytama Propindo di laut Desa Limbangan, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, menuai keluhan hebat dari warga setempat. Dentuman keras alat berat yang beroperasi hingga dini hari tidak hanya membuat ikan menjauh, tetapi getarannya kini dilaporkan mulai merusak rumah warga.
Aktivitas pemancangan yang dimulai sejak awal September 2026 ini berdampak langsung pada mata pencaharian sekitar 350 nelayan di Desa Limbangan. Nelayan tradisional yang biasanya berangkat pagi dan pulang sore hari tersebut kini harus menelan pil pahit. Pendapatan mereka dilaporkan anjlok drastis hingga 70 persen.
Suara dentuman keras berkala terdengar siang dan malam, terutama intensif pada pukul 21.00 hingga 04.00 WIB. Akibat kebisingan bawah laut tersebut, ikan menjauh dari area bagan tangkap utama nelayan. Kondisi ini memaksa para nelayan melaut lebih jauh ke tengah laut demi mendapatkan tangkapan.
Konsekuensinya, biaya operasional membengkak. Nelayan yang biasanya hanya membutuhkan 10 liter solar untuk sekali melaut, kini harus membawa 20 hingga 25 liter solar. Gabungan antara hasil tangkapan yang zonk dan biaya BBM yang membengkak membuat ratusan nelayan merugi.
“Yang harusnya solar hanya 10 liter cukup, sekarang harus 20 liter lebih. Ikan tidak ada. Kami 350 nelayan di sini pagi berangkat sore pulang, sekarang pulang bawa rugi,” keluh salah satu nelayan Limbangan.
Kerugian tidak hanya terjadi di laut. Di daratan, getaran dari alat pancang diduga merusak infrastruktur rumah warga. Kerusakan terparah dialami oleh Junedi (42), warga RT 02/RW 01 Desa Limbangan.
Tembok kamar tidur di rumahnya retak menganga, plafon bergeser, dan kusen pintu rumahnya kini tidak bisa ditutup rapat akibat pergeseran struktur. Setiap kali alat pancang beroperasi, material pasir dari tembok yang retak rontok mengotori kasurnya.
“Saya bingung harus mengadu ke siapa. Sudah lapor RT dan pihak Desa, tapi belum ada tindak lanjut. Kalau dibiarkan terus, saya khawatir rumah ini bisa ambruk menimpa anak dan istri saya,” kata Junedi dengan nada lirih, Rabu (23/9/2026).
Merespons keluhan warga, Ketua LSM Aliansi Masyarakat Nusantara Demokrasi dan Pengawasan Desa, HD Sumantri, angkat bicara secara tegas. Pihaknya mendesak pihak korporasi untuk segera mengambil langkah pertanggungjawaban.
“Ini menyangkut nasib 350 kepala keluarga nelayan yang terancam kehilangan mata pencaharian. Pendapatan mereka hilang 70 persen, pengeluaran solar membengkak, dan

sekarang rumah warga ada yang jebol,” ujar HD Sumantri saat ditemui di kantornya di Jalan Raya Desa Segeran, Juntinyuat.

HD Sumantri menegaskan beberapa tuntutan mendesak kepada PT Polytama Propindo:
  1. Menghentikan total aktivitas pemancangan pada malam hari agar tidak mengganggu istirahat warga.
  2. Segera menggelar musyawarah terbuka bersama warga di Balai Desa Limbangan.
  3. Memberikan ganti rugi atas hilangnya pendapatan nelayan serta menanggung penuh perbaikan kerusakan rumah warga yang terdampak.
Hingga berita ini diturunkan, pihak perwakilan manajemen PT Polytama Propindo belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga dan tuntutan dari pihak lembaga swadaya masyarakat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *